Jumat, 08 Februari 2019

WARUNG KOPI SEBAGAI PENCIPTA DUNIA SIMULASI VIRTUAL DAN BENTUK “EKSTASI” KONSUMERISME VIRTUAL MASYARAKAT ACEH

Tidak ada komentar:
Setelah tulisan pertama yang pernah saya publikasikan beberapa waktu lalu  berjudul "Pudarnya Pesona Komunikasi Tatap Muka di Warung Kopi" (baca di sini), kali ini saya tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai fenomena warung kopi kontemporer di Aceh saat ini.
Pada tulisan yang lampau, ada dua konsep yang saya tekankan, yaitu hiperealitas dan online disinhibition effect. Maka pada pembahasan lebih jauh, dapat dikaji bahwasanya posisi masyarakat Aceh dan kebiasaan mereka memanfaatkan warung kopi sebagai media untuk berselancar di dunia maya,

Kamis, 07 Februari 2019

Pudarnya Pesona Komunikasi Tatap Muka di Warung Kopi

Tidak ada komentar:
IMG_20180106_205638_351.jpg
Tradisi duduk di warung kopi memang sudah sejak lama dikenal oleh masyarakat Aceh dan mampu bertahan hingga saat ini. Warung kopi di Aceh hadir dalam bentuk yang beragam dan dapat ditemukan hampir di sepanjang jalan. Bagi masyarakat Aceh, warung kopi menjadi media komunikasi untuk berdiskusi dan bersilaturahim dengan sesama rekannya.

Rabu, 06 Februari 2019

JANGAN MAU MENJADI GENERASI LEBAY: Ayo! Lebih Kritis Terhadap Isi Media

Tidak ada komentar:
Pada masa lalu, ketika dunia pertelevisian kita hanya diisi oleh TVRI, anak-anak dan remaja hanya mendapat hiburan dari tokoh boneka semacam Pak Raden, Si Unyil, Pak Ogah, dan lain-lain dalam serial Boneka si Unyil. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, ketika mulai bermunculan siaran televisi swasta, anak-anak dan remaja kita mulai kebingungan dengan pilihan tontonan mereka, alias keriuhan yang membingungkan." ~Kutipan dalam buku Kedaulatan Frekuensi, KPI.

Bukan hal asing lagi jika kita menyalakan televisi kita, maka yang kita temukan adalah tayangan yang 'sejenis' rasanya. Entah itu tayangan musik, reality show, sinetron, parodi, uka-uka, dsb.

Mengapa saya katakan sejenis? Karena hampir di setiap stasiun televisi, tema yang diusung per program acara hiburan adalah sama. Sama-sama tidak jelas format acaranya, selain untuk sekadar hiburan atau senang-senang belaka.

Jika kita merujuk kembali pada UU. No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, di sana secara jelas sudah diatur bagaimana fungsi media massa dan standar format tayangan televisi yang layak itu seperti apa. Setidaknya, ada empat fungsi institusi media yang harus dijalankan: edukasi, hiburan, persuasi, dan kontrol sosial. Namun, apakah ini benar-benar sudah dijalankan dengan baik?

Sabtu, 02 Februari 2019

WORKING MOMS IN A DILLEMA: JADILAH IBU YANG TERBAIK

Tidak ada komentar:
Sedari awal saya memutuskan untuk menjadi seorang perempuan karir, itu artinya saya harus siap dengan segala konsekuensi yang dihadapkan setelahnya. Menjadi seorang perempuan karir seperti saya ini tentu saja tidak seindah apa yang terlihat, banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah menghadapi bagaimana pandangan-pandangan sosial pada umumnya, dan bagaimana menyiasati teknik pengasuhan anak atau mengurus rumah tangga di tengah-tengah persepsi sosial di sekitar.

Fenomena Dakwah Kekinian di Sosial Media

Tidak ada komentar:
Mungkin banyak orang, wacana, atau tulisan yang membahas tentang kondisi moralitas masyarakat saat ini dari berbagai aspek dan realita di lapangan. Sebagian besar, tema tulisan adalah mengangkat tentang bagaimana bobroknya moralitas masyarakat, khususnya kawula muda, di tengah-tengah globalisasi atau modernitas seperti saat ini. Ntah itu pergaulan bebas, narkoba, hamil di luar nikah (married by accident), dsb. Dalam hal ini, sebenarnya media massa mainstream atau sosial media juga berperan dalam mengonstruksi realita sosial di tengah-tengah masyarakat, dengan membangun wacana secara kontinyu tentang kondisi remaja saat ini.

Selasa, 15 Januari 2019

Ketika Perempuan Minum Kopi. Aneh kah?

Tidak ada komentar:
IMG_20180224_205046.jpg
Kopi adalah salah minuman favorit saya. Sedari saya kecil, almarhum ayahanda saya sering mengajak saya untuk duduk di warung kopi pada hari-hari libur.
Mungkin sebagian perempuan atau laki-laki sedikit merasa janggal ketika melihat ada perempuan yang dapat minum kopi hitam, pekat, dengan kadar kafein tinggi pula seperti saya.

Selasa, 08 Januari 2019

Perempuan-perempuan yang Dikomodifikasikan

Tidak ada komentar:
“Apakah bisa dikatakan tidak menyesatkan, ketika sensasi seksualitas memenuhi ruang pemberitaan lebih banyak daripada kasus korupsi yang menjadi sumbernya, dengan menjarah dan memperkosa ruang pribadi kaum perempuan yang pada dasarnya menjadi korban?"– Seno Gumira Ajidarma.

Selasa, 01 Januari 2019

Makna Khimar Pada Perempuan dalam Wacana Budaya Populer (Pop Culture)

Tidak ada komentar:
Makna khimar sebagai penutup kepala perempuan muslim saat ini sudah sangat berubah. Di luar dari esensi dasarnya sebagai tuntutan kewajiban, khimar sekarang ini dapat dimaknai sebagai nilai-nilai simbolik, kepentingan, dan juga trend budaya. Makna berkhimar kini kian dibentuk sesuai dengan adanya kepentingan bisnis di belakangnya. Sehingga sekarang ini yang terlihat adalah overproduksi bahkan overkonsumsi terhadap praktik berjilbab/menutup aurat. Masyarakat kini dijebak, dalam trend budaya yang akan diproduksi terus-menerus. Sehingga berjilbab, menutup aurat, pada akhirnya bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban beragama, akan tetapi memenuhi tuntutan dari desakan trend yang terus berkembang.

Selasa, 25 Desember 2018

APAKAH KAMU ORANG YANG GUGUP KETIKA BERKOMUNIKASI? ITU ARTINYA, ADA KELAINAN PADA KOMUNIKASIMU

Tidak ada komentar:
.Hari ini adalah hari yang sangat penting. Tidak boleh, aku tidak boleh merusaknya. Ah, tapi apa yang ada di hadapanku saat ini begitu mengerikan. Tatapan-tatapan itu sangat mengganggu, mereka seperti ingin melumatku saja! Apa yang harus aku katakan? Rasa-rasanya pikiranku mendadak hilang dari tempatnya. Mataku pun mulai terasa berkunang-kunang. Tanganku dingin tidak karuan. Aku mual! Sungguh, rasanya aku ingin muntah saja.”

Selasa, 18 Desember 2018

McDonaldisasi Masyarakat: Peradaban "Masyarakat" nan Praktis dan Hilangnya NIlai-nilai Kemanusiaan.

Tidak ada komentar:
Sadarkah kita? Jika saat ini, masa dan perubahan peradaban manusia sedang berkembang dengan sangat drastisnya?.
Ada masa-masa di mana manusia belum pernah mengenal dengan istilah kecanggihan teknologi. Masa di mana peran manusia sebegitu besarnya dilakukan tanpa harus dibantu oleh kecanggihan teknologi. Yang kata orang-orang saat ini, masa-masa tradisional, konvensional, tanpa dihantui dengan istilah-istilah modernitas.

Senin, 09 April 2018

[BILLINGUAL] Borubudur Temple: One of The Greatest Temple in World

Tidak ada komentar:
_MG_9031.JPG
It was so pleasure I was given the opportunity to visit one magnificent masterpiece - Borobudur Temple - in Magelang City, Central Java. No mistake I mention this temple as a work of extraordinary, since before I arrived to its location, from a distance I have seen how sturdy and perfect the building. Moreover, when I entered the courtyard of this temple, I constantly mumbled that so beautiful and majestic a temple that I think it is unlikely this can be created by a group of humans. So it is true, if this magnificent building is worth to be as one of the seven wonders of the world among other buildings.

Senin, 26 Maret 2018

MENANAMKAN NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN TEUKU UMAR SEJAK DINI MELALUI WISATA SEJARAH

Tidak ada komentar:
"Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap." --Soekarno, 1966.

Minggu, 25 Maret 2018, satu per satu para santriwati SMP IT Dayah Darul Muta'allimin Meulaboh bergegas menaiki bus yang sudah terpakir manis di pelataran dayah. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, itu artinya hari sudah menjelang siang. Matahari mulai terlihat di tengah-tengah memancarkan terik panasnya, menantang para santriwati dengan angkuhnya. Namun itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap melangkah dengan riangnya. Terlihat juga senyum yang merekah lebar di wajah mereka. Iya, mereka sangat bersemangat! Hari itu kami telah bersepakat untuk pergi berziarah, ke salah satu makam pejuang besar Aceh, Makam Teuku Umar Johan Pahlawan.

Jumat, 09 Maret 2018

(Billingual) Bandung, the Most Beautiful Place to be Visited in Java || Bandung, Kota Wisata Terindah di Pulau Jawa

Tidak ada komentar:
1.JPG
Halo teman-teman blogger!
Kali ini saya ingin mereview sedikit sisa-sisa perjalanan saya ketika ke Bandung dahulu. Ini merupakan murni sudut pandang pribadi saya, sejauh saya berkelana di pulau Jawa --Bandung saya anggap sebagai kota terindah yang pernah saya kunjungi.
Bandung merupakan salah satu kota yang berada di Jawa Barat, Indonesia. Kotanya indah sekali. Banyak tempat-tempat wisata dan hiburan yang dapat kita kunjungi jika ingin berlibur ke sana. Bahkan, tidak akan sanggup kita kunjungi jika hanya berlibur selama beberapa hari di kota ini.

Jumat, 09 Februari 2018

[Billingual] Semarang, the Classical Town of Oriental-European Style and its Natural Beauty | Semarang, Kota Klasik Bernuansa Oriental-Eropa dan Keindahan Alam

Tidak ada komentar:
Hampir dua tahun saya meninggalkan Kota Semarang, kota dengan sejuta kenangan. Saya pernah berada di kota ini selama dua tahun lamanya, yaitu sejak akhir tahun 2013 hingga pertengahan 2016. Selama itu lah, saya berkeliling ke beberapa tempat dan menemukan hal-hal yang menarik di sini. Bagi saya, Semarang memberikan banyak kesan yang sulit dilupakan. Salah satunya adalah keindahan dan keunikan kota yang tidak ditemukan di tempat lainnya.
Semarang, adalah sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia. Kota bersejarah yang ‘eksotis’ dengan perpaduan nuansa klasik Eropa-Oriental, modern, dan keindahan alamiah. Di dalam Kota Semarang, selain bangunan-bangunan modern kita dapat menemukan bangunan-bangunan bersejarah yang sangat kental dengan corak khas China dan Belanda.

Selasa, 22 September 2015

Mesjid Agung Semarang

Tidak ada komentar:
Salah satu tempat ibadah umat Islam di Kota Semarang, yang juga dijadikan sebagai destinasi wisata ‘recommended’ untuk dikunjungi. Saya sendiri, benar-benar mengagumi keindahan rumah Allah ini.
Maka nikmat Tuhan manakah yang harus didustai?
Salah satu tempat ibadah umat Islam di Kota Semarang, yang juga dijadikan sebagai destinasi wisata ‘recommended’ untuk dikunjungi. Saya sendiri, benar-benar mengagumi keindahan rumah Allah ini.
Maka nikmat Tuhan manakah yang harus didustai?

Minggu, 28 Desember 2014

Bermain dengan Alam

Tidak ada komentar:
Salah satu kegiatan yang paling saya gemari ketika mulai penat dengan rutinitas adalah bermain dengan alam. Ya seperti mendaki atau menjelajah di dalam hutan. Karena alam memberikan suasana berbeda yang mampu meneduhkan. Ia membuat hati terasa lapang. Alam itu tampil sederhana dan apa adanya. Kesibukan di dalamnya itu alami. Jauh berbeda dengan aktifitas manusia di kota yang semberawut dan menjenuhkan isi kepala.


-28 Desember 2014-
Salah satu kegiatan yang paling saya gemari ketika mulai penat dengan rutinitas adalah bermain dengan alam. Ya seperti mendaki atau menjelajah di dalam hutan. Karena alam memberikan suasana berbeda yang mampu meneduhkan. Ia membuat hati terasa lapang. Alam itu tampil sederhana dan apa adanya. Kesibukan di dalamnya itu alami. Jauh berbeda dengan aktifitas manusia di kota yang semberawut dan menjenuhkan isi kepala. -Curug Lawu, Jawa Tengah, 28 Desember 2014-

Kamis, 26 Juni 2014

Liburan Sejuk Ke Dieng Plateau

2 komentar:
Suatu hari, saya bersama teman-teman dan kakak kelas di kampus mengunjungi salah satu objek wisata yang ada di Jawa Tengah, Dieng Plateau namanya. Objek wisata ini sudah lumayan terkenal di sini, banyak orang baik para wisatawan luar kota, para mahasiswa, atau bahkan keluarga yang menghabiskan waktu ke sini untuk berlibur. Dieng ini merupakan salah satu daerah dataran tinggi di Jawa yang cuacanya sangat sejuk, dan menjadi salah satu desa tertinggi di pulau ini. Cukup seharian saja jika ingin berlibur hemat ke sana tanpa harus menginap, meskipun agak lumayan melelahkan.

Minggu, 13 April 2014

Sesekali, Lihat lah Ke Bawah.

1 komentar:
Saya merasa beruntung, terlahir dari keluarga yang (lumayan) bisa dikatakan hidup berkecukupan. Meskipun tidak terlalu kaya, saya dan keluarga masih bisa makan makanan yang enak, tinggal di rumah yang nyaman, bisa sekolah, dan masih bisa membeli apa yang dibutuhkan. Alhamdulillah.

Pagi tadi saya berjalan kaki bersama teman kos hendak ke pasar minggu, ini kali pertama saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa ada orang-orang yang hidupnya sangat tidak layak. Mereka tinggal di emperan jalan, di halaman kosong gedung-gedung tua kampus Undip, dan di sana mereka membangun rumah mereka (yang menurut saya tidak bisa dikatakan sebagai rumah), tinggal bersama keluarga kecilnya. Dan kondisi seperti ini tidak pernah atau (mungkin) belum saya temui di Aceh. Sungguh saya takjub!

Sabtu, 29 Maret 2014

Tidak ada komentar:
Berlapang hati itu indah. Memang indah. Terlebih lagi ketika kita mencoba untuk berdamai dengan berbagai perasaan.
Kita, sebagai manusia diberi hati untuk merasa. Merasakan rasa marah, benci, sayang, rindu, malu, dan juga cinta. Dan terkadang, manusia ini memiliki keterbatasan-keterbatasannya dalam mengelola perasaan-perasaan tersebut. Manusia itu bukan Tuhan. Manusia itu tak punya kuasa. Seberapa besar pun kita berusaha menguasai perasaan-perasaan tersebut, toh pada akhirnya kita juga adalah seorang insan yang lemah. Yang bisa kita lakukan adalah hanya mencoba untuk berdamai dengan perasaan-perasaan itu.


Selasa, 24 Desember 2013

Tidak ada komentar:
SELAMA tiga minggu terakhir, di tengah-tengah kesibukan kuliah saya menyempatkan diri untuk menonton beberapa film Indonesia yang baru-baru ini ditayangkan. Saya menontonnya bersama teman-teman kuliah di salah satu bioskop dekat tempat tinggal saya di Semarang. Menurut saya, dunia perfilman Indonesia sudah mulai menunjukkan "geliat" eksistensinya selama dua sampai setahun terakhir ini. Beberapa film yang saya tonton tersebut, tidak mengecewakan. Bahkan cukup mengesankan, jika melihat sebelumnya masih begitu banyak film Indonesia yang dari segi content dan alur ceritanya terkesan kurang berbobot. Sebagai seorang penikmat film yang awam, saya pribadi cukup puas dengan hasil karya sutradara-sutradara Indonesia ini.

Ada tiga film yang sudah saya tonton dalam tiga minggu ini, yaitu 99 Cahaya Di langit Eropa, Soekarno, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Hmm, benar-benar recommended buat ditonton. Artisnya cantik dan tampan-tampan, akting mereka pun luar biasa. Hehe.
Baiklah, di sini saya ingin sedikit berbagi cerita mengenai tiga film tersebut dari sudut pandang saya sebagai seorang penikmat film. :)

PERTAMA, "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck". Di antara tiga film yang saya tonton itu, yang paling saya sukai adalah film ini. Film ini mulai ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia sejak 19 Desember 2013 lalu. Film ini diproduksi oleh PT Soraya Intercine Films, dengan sutradara Sunil Soraya dan diproduseri oleh Ram Soraya. Film ini diangkat dari novel masyhur karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Buya HAMKA), dengan latar keindahan nusantara Indonesia pada tahun 1930.

Dengan dibintangi oleh artis-artis sekaliber Reza Rahardian, Herjunot Ali, dan Pevita Pearce, sukses membuat film ini benar-benar terlihat "hidup" dan menyentuh. Artis-artis berbakat tersebut dalam sekejap mampu menghipnotis penonton dengan akting mereka yang sangat terlihat natural. Saya sendiri salut dengan teknik akting mereka yang sangat profesional dan benar-benar menghayati perannya.

Sinopsis Film :

Cerita ini berawal dengan kedatangan Zainuddin (Herjunot Ali) ke Batipuh, Padang Panjang, untuk mengunjungi tanah kelahiran ayahnya juga untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara dan belajar ilmu agama. Di sini, Zainuddin merupakan seorang anak yatim piatu, yang dianggap tidak beradat, miskin dan tidak berbangsa oleh suku Minangkabau. Masyarakat Batipuh itu masih sangat memegang kuat adat istiadat leluhurnya, yang sangat mementingkan kesukuan sehingga Zainuddin dikucilkan. Zainuddin ketika itu jatuh cinta pada pandangan pertama pada Hayati (Pevita Pearce) yang juga seorang yatim piatu, namun keturunan bangsawan. Perasaan Zainuddin pada Hayati ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, Hayati juga mencintai Zainuddin sedalam perasaan yang dimiliki Zainuddin kepadanya. Namun apa daya, hubungan mereka ditentang oleh sukunya. Hayati dianggap tidak layak dengan seorang Zainuddin yang tidak jelas asal usulnya. Dan Zainuddin terpaksa keluar dari Batipuh, pindah ke Padang Panjang.

"Saya bersumpah, akan selalu menunggu Eungkuh Zainuddin, mencintaimu. Setahun, bahkan hingga sepuluh tahun pun. Jiwa dan hati ini akan selalu suci...." -- Hayati.
Sebelum Zainuddin pergi, Hayati bersumpah padanya bahwa dia akan selalu setia menunggunya dan akan selalu mencintainya. Namun janji Hayati tersebut terpaksa diingkarinya karena ia dilamar oleh Aziz (Reza Rahardian) yang seorang kaya dan berbangsa tanpa bisa ia tolak. Adat bangsanya telah membuat Hayati tidak bisa memilih Zainuddin. Hayati lebih menghormati keputusan yang dipilih oleh sanak saudara dan masyarakatnya. Zainuddin merasa sangat kecewa dan patah hati dengan sikap Hayati kepadanya. Sehingga selama beberapa waktu Zainuddin sakit, tergeletak tidak berdaya di kamarnya.

Namun berkat sahabatnya, Zainuddin sadar bahwa dia harus segera bangkit dan tidak larut dalam kesedihan karena cinta. Akhirnya Zainuddin dan sahabatnya memutuskan untuk merantau ke Batavia, ingin merubah nasib. Dengan modal kepintarannya menulis sajak dan sastra, Zainuddin berubah menjadi seorang penulis ternama. Karyanya tersohor di mana-mana. Sehingga Zainuddin dipercayakan untuk mengelola bisnis penerbitan di Surabaya, dan menjadi seorang yang kaya raya dan budiman.

Di sisi lain, Hayati hidup bersama Azis yang sangat senang menghambur-hamburkan uang dan bermain perempuan. Suatu ketika, Azis bangkrut. Dan mereka pindah ke Surabaya.
Di sana lah, Hayati bertemu kembali dengan Zainuddin dalam sebuah pertunjukan opera yang diselenggarakan oleh Zainuddin. Pertemuan yang sangat tidak terduga dan mengejutkan, dengan segala perubahan pada Zainuddin dan ketenarannya.

Azis yang ketika itu telah bangkrut dan dikejar-kejar oleh penagih hutang, akhirnya meminta tolong Zainuddin agar ia dan Hayati diizinkan tinggal di rumahnya. Dan Zainuddin dengan hati yang lapang dan tulus melayani mereka dengan baik, sebagai seorang sahabat. Padahal, di balik itu Zainuddin sangat merasa menderita. Karena sebenarnya jauh di lubuk hatinya, ia masih sangat mencintai Hayati.

Azis yang merasa bersalah dan menyesal terhadap perbuatannya terhadap Zainuddin selama ini, memutuskan untuk meninggalkan Hayati di kediaman Zainuddin dengan alasan ingin merubah nasib. Dia meminta Zainuddin untuk menjaganya baik-baik. Lalu, Azis tiba-tiba menceraikan Hayati dan bunuh diri. Untuk membalas perbuatannya terhadap Zainuddin, dan memberikannya kesempatan untuk memiliki Hayati kembali.

Hayati yang telah sadar bahwa Zainuddin masih sangat mencintainya, menemui Zainuddin dan meminta maaf. Dia berkata, bahwa selama ini pun dia juga masih sangat mencintainya dan sangat terluka. Namun, Zainuddin yang memiliki prinsip keras menolak untuk menerima Hayati kembali meski harus membohongi perasaannya, ia hanya menganggap Hayati sebagai seorang sahabat dan janda dari sahabatnya. Zainuddin memutuskan untuk memulangkannya ke tanah Padang. Hayati disuruh untuk bergegas kembali ke Padang dengan menggunakan Kapal Van Der Wijck yang berangkat esok hari.
"Begitulah perempuan, ia hanya ingat akan luka yang diterimanya meskipun sedikit. Dan lupa pada luka-luka yang telah diberikannya...." -- Zainuddin.
Cerita ini berakhir tragis, ketika ternyata kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam. Zainuddin yang pada saat itu telah membaca surat yang dititipkan Hayati untuknya, menyesali keputusannya membiarkan Hayati pulang ke Padang. Zainuddin tergesa-gesa hendak menyusul Hayati, namun langkahnya terhenti ketika melihat berita di surat kabar bahwa kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam.

Zainuddin berlari panik di rumah sakit yang menampung korban-korban, ia dan sahabatnya mencari Hayati. Dan mereka menemukan Hayati di salah satu bangsal, di antara korban-korban lainnya dalam kondisi yang sangat kritis.
Hayati pun meninggal. Dan Zainuddin kembali kehilangan Hayati, bukan karena perjodohan, namun karena mautlah yang memisahkan mereka.

Setelah kepergian Hayati, Zainuddin kembali menuliskan buku tentang kisah mereka dan mendirikan yayasan Panti Asuhan "Hayati". Namun, Zainuddin kali ini hidup berbahagia. Ia tidak ingin larut dalam kesedihannya atas kehilangan Hayati. Karena baginya, Hayati selalu ada. Cinta Hayati dan cintanya kepada Hayati, selalu membuatnya terasa ada.

Kelebihan :
 
Dari segi alur, sejak awal cerita film ini sudah berhasil mengaduk-aduk dan membawa emosi saya. Bahkan hingga akhir cerita pun, film ini sangat sarat konflik dan benar-benar menyentuh. Konflik yang muncul stabil, karena setiap scene selalu saja dipenuhi oleh emosi dari pemainnya. Novel Buya Hamka ini mampu divisualisasikan dengan baik oleh Sunil. Penggambaran adat istiadat Minangkabau ditunjukkan dengan sangat jelas, suasana masa lalu yang menjadi latar film tersebut pun sangat bagus. Saya sendiri merasakan seperti seakan-akan benar-benar berada di Minangkabau pada tahun 1930-an silam.

Akting dari pemain-pemain film ini pun sangat bagus. Herjonot Ali mampu mendalami perannya sebagai seorang Zainuddin yang mencintai sastra dan menulis, dan berkarakter lugu. Dan adegan ketika dia patah hati, juga kepiluan hatinya karena cinta yang tidak tersampaikan diperankannya dengan sangat baik. Terlebih lagi ketika Hayati meninggal, Herjunot benar-benar menumpahkan segala emosinya seperti kehilangan kekasih yang teramat dicintainya. Natural dan sangat totalitas.

Sedangkan Reza Rahardian yang memerankan sebagai Azis, benar-benar sangat memukau. Aktingnya mampu membius penonton untuk terdiam seketika, dan hanyut dalam aktingnya. Menurut saya, dalam film ini Reza lah yang terbaik memerankan perannya. Sebagai seorang konglomerat yang memiliki sikap kebarat-baratan, Reza berhasil menirukan gaya khas konglomerat pribumi dengan segala kenakalannya. Sudah tidak mengherankan lagi, jika seorang Reza Rahardian pintar menirukan logat peran hampir sesuai dengan aslinya.

Pevita Pearce pun begitu.