Sabtu, 07 Desember 2013

Petualangan di Negeri "Upin Ipin"

7 komentar:
KALI PERTAMA saya ke Kuala Lumpur, Malaysia, itu adalah modal "nekat". Tanpa ditemani oleh seseorang yang sudah mengenal kota tersebut, atau setidaknya pernah ke sana, saya berinisiatif untuk tetap ke sana demi memuaskan jiwa "petualang" saya dan memanfaatkan kesempatan yang memang sudah ada di depan mata. Tepatnya di bulan Maret 2013, saya bersama paman berangkat menuju Kuala Lumpur dari Pulau Penang dengan menggunakan bus di terminal Sungai Nibong. Saat itu kami memilih keberangkatan pukul 01.00 dini hari. Busnya benar-benar menarik, luas, dan nyaman. Berbeda dengan kebanyakan bus yang ada di Aceh. Harga tiketnya ketika itu adalah RM 35 atau sekitar 105.000 Rupiah.

Perjalanan dari Penang ke Kuala Lumpur menghabiskan waktu sekitar 5 jam. Saya dan paman ketika itu hanya punya waktu seharian di sana, alias harus pulang-balik Penang - Kuala Lumpur - Penang. Itu karena ayah dan ibu saya menunggu kami di Penang, dan tidak bisa ikutan karena kondisi kesehatan Ayah yang tidak baik. Bisa dibayangkan kan, bagaimana perjalanan pertama kalinya ke Kuala Lumpur dengan waktu yang hanya singkat sekali itu? Benar-benar nekat pokoknya.

Kamis, 28 November 2013

Selama Mereka (Orang Tua) Masih Bersamamu

Tidak ada komentar:
Ketika Berkunjung ke Meuseum Tsunami (2010)
Kamu tau? Perasaan menyesal setelah kehilangan seseorang yang kamu sayangi dan cintai, ketika ternyata ada banyak hal yang tidak mampu kamu berikan kepadanya dengan tulus. Ternyata benar-benar memilukan. Apalagi, jika hal-hal tersebut baru kamu sadari setelah dia tiada. Suatu keterlambatan yang sangat terlambat.

Tahun 2013 ini, sepertinya menjadi "tahun terparah" untuk penyakit insomniaku.  Jujur, saat ini aku mengalami kesulitan untuk mengatur jadwal tidur malamku. Menjelang waktu tidur, meskipun sudah berkali-kali menguap, namun tetap saja tak kunjung terlelap. Paling cepat ya pukul 12 malam, tapi kalau mata tidak bersahabat ya sering kali pukul 3 dini hari baru bisa terlelap. Dan itu pun tidak terlalu nyenyak.

Insomnia ini bermula semenjak Maret 2013, ketika mengetahui bahwa ayahku mengidap kanker hati stadium IV setelah check up di Penang. Setiap malam, aku selalu dibayang-bayangi oleh kekhawatiran dan mimpi-mimpi buruk tentang ayahku. Aku takut tidur, takut jika aku terbangun maka mimpi burukku itu akan berubah menjadi nyata. Bahwa aku akan kehilangan ayahku.

Rabu, 27 November 2013

Rindu, Gengsi, dan Bisu

Tidak ada komentar:
KATA Falafu sih, diam dan tak saling menyapa itu bukan berarti tidak memikirkan. Bisa saja, karena terlalu menahan rindu, lantas menjadi bisu.
Percaya ga percaya, hal seperti ini biasa terjadi. Entah karena terlalu malu untuk memulai, atau justru terlalu segan, sehingga pada akhirnya menindas perasaan rindu itu sendiri. Ah, manusia!

Gengsi atau ogah-ogahan memulai, pada akhirnya justru tidak memberikan hasil yang baik. Toh, ujung-ujungnya yang menyesal juga siapa? Ya manusia yang merindu itu.
Zaman sekarang, mau rindu-rinduan sama siapa saja sebenarnya sudah sangat mudah. Banyak media yang bisa jadi penghubung untuk menghilangkan rasa rindu. Kalau ga mau telponan (alasan malu atau ga ada bahan bicara) ya bisa sms-an. Apalagi, media komunikasi saat ini sudah ada BBM-an lah, Whatsap-an lah, Line, Wechat, Twitter, Facebook, wa sahibatuha lah pokoknya. Lantas, apanya yang susah? Ya komunikasinya.

Memang, kalau sudah menyangkut permasalahan perasaan, agak ribet jadinya. Mikir terlalu muluk-muluk sih, banyak sekali pertimbangannya. Takut dianya ga ngerespon lah, takut ngeganggu waktunya lah, atau apalah alasan yang dibuat-buat lainnya. Padahal, tinggal bilang "Hai, kamu apa kabar?" terus send!. Gitu saja kok repot!. Huft (Ngatain gini sih memang mudah, tapi susah dijalaninya. Haha)

Penjual Sate Keliling

Tidak ada komentar:

Sa....teeeeee......eeee....eeee!
Nah, kalau sudah terdengar bunyi seperti itu, biasanya saya dan teman sekosan langsung sigap memanggil bapak penjual sate keliling yang satu itu. Selama di sini, bapak tersebut masih menjadi satu-satunya penjual sate favorit kami. Rasanya lumayan enak, dan porsinya pun banyak.
Tapi sayangnya, kami sering di PHP-in sama bapak yang satu ini. Duh ~

Ternyata, yang PHP itu ga cuma gebetan atau calon pasangan doang. Bapak penjual sate pun, bisa begitu. Yah, kok bisa? Ya bisa dong, namanya juga manusia. Hehe...
Karena jadi satu-satunya penjual sate keliling yang melewati kos-kosan kami, kami jadi mengharap lebih kepada bapak sate yang satu ini. Kata si bapak, beliau sering lewat di daerah sekitar kos-kosan kami. Tapi ntah mengapa, kalau giliran ditungguin saja itu bapak ga lewat-lewat di depan kosan. Pas gak ditungguin, atau kami udah pasrah lantas keluar kosan dan mencari makanan lain, eh tiba-tiba bapak sate lewat gitu saja. Gimana ga PHP coba! Hahaha.